Doomscrolling adalah istilah yang kini sering dipakai untuk menggambarkan Kebiasaan Doomscrolling menggulir berita atau konten negatif di ponsel tanpa henti. Meski itu membuat perasaan kita makin tidak enak. Istilah ini berasal dari kata doom (sesuatu yang buruk atau mengancam) dan scrolling (menggulung layar), yang ketika digabung berarti terus‑menerus melihat konten yang penuh kabar buruk.
Fenomena ini sering terjadi di media sosial seperti TikTok, Instagram, X, atau aplikasi berita, terutama ketika ada peristiwa besar seperti pandemi, krisis ekonomi, atau konflik global. Karena kita ingin merasa “up‑to‑date”, kita terus menggulir, malah semakin terjebak dalam lingkaran konten negatif.
Kenapa Kita Kecanduan Doomscrolling?
Sebenarnya, kebiasaan ini bukan sekadar “waktu luang kita terbuang sia‑sia”, tapi punya akar psikologis:
-
Respons alami otak terhadap ancaman — manusia punya kecenderungan evolusi untuk memperhatikan hal yang dianggap penting atau berbahaya.
-
Algoritma media sosial — konten yang membuat kita emosional (khawatir, takut) sering dipromosikan lebih sering oleh algoritma sehingga kita makin tertarik untuk terus melihatnya.
-
FOMO (fear of missing out) — takut ketinggalan informasi membuat kita terus membuka aplikasi, bahkan tanpa sadar sudah lama scroll.
Hubungan Doomscrolling & Kecemasan
Banyak penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan doomscrolling berkaitan erat dengan kecemasan. Kebiasaan terus‑menerus mengekspos diri pada konten negatif sangat berkorelasi dengan tingkat kecemasan yang lebih tinggi, dan ketahanan psikologis bisa memoderasi dampaknya.
Dengan kata lain, makin sering kamu terpapar berita yang bikin takut atau stres, makin besar kemungkinan pengalaman itu memicu reaksi kecemasan. Bahkan orang yang sudah punya kecenderungan cemas atau stres sebelumnya akan merasa dampaknya jauh lebih kuat.
Bahkan hanya beberapa menit saja membaca berita buruk bisa memengaruhi suasana hati secara negatif, dan ketika ini menjadi rutinitas harian, mood dan harapan hidup bisa turun drastis.
Baca Juga:
3 Resolusi Kesehatan Otak di Tahun 2026 dari Pakar Neurologi
Dampak Doomscrolling Pada Kesehatan Mental
1. Meningkatkan Kecemasan dan Stres
Menggulung konten buruk tanpa henti bisa jadi seperti memvalidasi kekhawatiran kita sendiri: membaca lebih banyak berita negatif membuat kita merasa dunia ini memang mengancam, yang bikin kecemasan jadi makin parah.
Beberapa studi juga menemukan bahwa orang yang melakukan doomscrolling lebih sering menunjukkan gejala stres yang lebih tinggi di banding mereka yang tidak.
2. Memicu Depresi dan Putus Asa
Paparan berita negatif secara terus‑menerus bukan hanya bikin cemas, tapi juga dapat memicu perasaan putus asa, kosong, atau kurang bermakna dalam hidup. Itu sebabnya banyak orang merasa lebih gelap atau sedih setelah sesi scrolling panjang.
3. Gangguan Tidur
Sering banget doomscrolling terjadi saat malam—saat sebelum tidur. Padahal, melihat layar ponsel dan konten yang membuat tegang justru bikin otak susah menenangkan diri, sehingga kualitas tidur jadi buruk.
Kurang tidur ini kemudian berdampak pada mood keesokan harinya: kita jadi lebih mudah marah, kurang sabar, dan lebih cemas.
4. Pengaruh pada Persepsi Dunia
Karena kita terlalu fokus pada berita buruk, otak bisa mulai melihat dunia sebagai tempat yang lebih berbahaya daripada faktanya. Ini disebut bias negatif — di mana informasi buruk lebih mudah menarik perhatian kita daripada yang positif.
Akibatnya, pandangan hidup bisa jadi lebih gelap dan pesimis daripada kenyataannya, padahal dalam kehidupan nyata sering kali banyak hal baik yang terjadi juga.
5. Kelelahan Mental (Mental Fatigue)
Terus‑menerus melihat konten emosional bikin otak cepat lelah. Tidak hanya mood turun, tapi proses berpikir, fokus, dan produktivitas sehari‑hari juga bisa terganggu. Stres psikologis kronis bisa muncul tanpa di sadari akibat pola ini.
Bukti Fisik dari Doomscrolling
Kebiasaan ini hanya tampak seperti sesuatu yang “mental”, tapi sebenarnya juga membawa dampak di tubuh:
-
Ketegangan otot & sakit kepala — duduk lama, tegang melihat layar, atau stres mental bisa memicu respons fisik seperti ini.
-
Sulit tidur dan gangguan pola istirahat — ini bukan hanya mental, tapi fisiologis.
-
Tingkat stres hormonal — ketika terus cemas, tubuh melepaskan hormon stres seperti kortisol, yang jika terus tinggi bisa mengganggu keseimbangan tubuh kita.
Cerita Sehari‑hari: Kita Gak Sendiri
Banyak orang di forum online berbagi betapa sulitnya menghentikan kebiasaan doomscrolling begitu sudah di mulai. Mereka merasa sulit berhenti, bikin fokus kerja terganggu, kecemasan meningkat, bahkan membuat mereka merasa “terjebak” di dunia digital tanpa kontrol.
Ini menunjukkan bahwa perilaku ini bukan sekadar kebiasaan buruk yang mudah di hentikan — tapi sesuatu yang benar‑benar bisa memengaruhi cara kita berpikir dan hidup sehari‑hari.
Siapa yang Paling Rentan?
Beberapa orang cenderung lebih mudah terjebak doomscrolling:
-
Individu dengan kecenderungan emosional tinggi atau mudah cemas.
-
Mereka yang sedikit disiplin dan mudah terdistraksi.
-
Orang yang ingin merasa selalu terinformasi dan kontrol situasi.
Jika kamu termasuk yang mudah merasa cemas atau stres, dampak kebiasaan ini bisa terasa sangat nyata.
Dampak Doomscrolling Pada Kehidupan Nyata
Kebiasaan ini bukan hanya memengaruhi mood, tapi bisa berdampak pada:
-
Produktivitas kerja atau belajar — fokus sering terpecah karena pikiran masih kepikiran konten negatif yang tadi di lihat.
-
Hubungan sosial — waktu yang terbuang buat scrolling bisa mengurangi momen berharga dengan orang terdekat.
-
Keputusan penting — pandangan dunia yang jadi lebih negatif dapat memengaruhi cara kita mengambil keputusan, terutama yang berkaitan dengan rasa aman dan masa depan.
Kalau kamu mulai merasa kebiasaan Doomscrolling bikin kamu makin cemas, stres, atau susah tidur, itu bukan sekadar “perasaan biasa”. Banyak riset menunjukkan bahwa pola ini benar‑benar berdampak pada kesejahteraan mental kita — jadi sangat wajar kalau kita harus lebih sadar dan mulai mengatur kebiasaan digital kita sendiri.